Ekologi dan Anarkisme [1]
Oleh : Irsan Muzaki Fadilah[2]
Pada hakikatnya kehidupan planet ini seperti yang
dikatakan Bookchin tidak mungkin terlepas dari posisi manusia sebagai agen
dominan dalam nilai-nilai kuasa, apapun bisa dilakukan oleh manusia mulai dari
membangun (to build), menyemalatkan (to konserv), maupun menghancurkan (to
destroy), meskipun teori Sonny Keraf tentang sifat antroposentris yang dianggap
paling ideal namun manusia tidak bisa mengejawantahkan teori tersebut apalgi
jika langsung berhubungan dengan modernitas dan kebutuhan-kebutuhan primer.
Kebutuhan-kebutuhan primer manusia memang menjadi hal
wajar jika langung berhubungan dengan pemanfaatan alam, melalui alam, manusia
mampu menciptakan karya-karya yang begitu megah melalui pembangunan
infrastruktur yang dilakukan insinyur yang tentunya berkaitan dengan proses
eksploitasi material tambang terlebih dahulu dan mengalih fungsikan lahan.
Namun, ekologi dengan jelas menunjukan bahwa keseluruhan alam yang alami
dilihat dari semua aspek, siklus, dan keterkaitannya membatalkan semua pretense
manusia untuk menguasai dunia. Tanah-tanah terlantar diafrica utara dan bukit
-buit Yunani yang tererosi, setelah sebelumnya merupakan area pertanian yang
berkembang pesat dan flora alam yang kaya, merupakan bukti sejarah akan
pembalasan dendam alam terhadap parasitisme manusia[3].
Sifat ke-parasitismean manusia sudah dimulai sejak
jaman purba ketika manusia purba mulai sadar tentang metodelogi bercocok tanam
dan melakukan pembukaan lahan dihutan, padahal islam sejak kerasulan Muhammad
sudah memberitahukan bahwa dalam perang sekalipun prajurit sebisamungkin
melakukan peperangan ditempat terbuka, tidak melakukan perusakan fasilitas
umum, tidak membunuh merempuan dan anak kecil, dan yang paling ekologis yaitu
tidak boleh merusak tanaman.
Namun, sekarang justru peperangan banyak melanggar
kaidah perang sendiri, tertutama dalam perusakan alam dan ekosistem bahkan
kerusakan alampun kerap dilakukan oleh pemeritah melalui program-program yang
katanya untuk kepentungan masyarakat, seperti pemberian izin pertambangan dan
pembukaan kawasan wisata ditempat yang menjadi sentrum pertumbuhan flora dan
fauna. Sehingga, tak jarang banyak para aktivis lingkungan yang menganggap
keruasakan alam justru banyak dilakukan oleh pemerintah, dan Murray Bookchin
mengeluarkan buku Ekologi & Anarkisme unutk mempropagandakan bahwa alam
tidak membutuhkan campur tangan pemerintah dalam perkebangannya.
[1] Ditulis untuk pelatihan jurnalistik lingkungan dari DLH Jabar.
[2] Peserta pelatihan jurnalistik lingkungan.
[3] Bookchin Murray, Ekologi & Anarkisme
(Pustaka Catut, 2018).

