Selasa, 19 November 2019

Ekologi dan Anarkisme


Ekologi dan Anarkisme [1]
Oleh : Irsan Muzaki Fadilah[2]


Pada hakikatnya kehidupan planet ini seperti yang dikatakan Bookchin tidak mungkin terlepas dari posisi manusia sebagai agen dominan dalam nilai-nilai kuasa, apapun bisa dilakukan oleh manusia mulai dari membangun (to build), menyemalatkan (to konserv), maupun menghancurkan (to destroy), meskipun teori Sonny Keraf tentang sifat antroposentris yang dianggap paling ideal namun manusia tidak bisa mengejawantahkan teori tersebut apalgi jika langsung berhubungan dengan modernitas dan kebutuhan-kebutuhan primer.

Kebutuhan-kebutuhan primer manusia memang menjadi hal wajar jika langung berhubungan dengan pemanfaatan alam, melalui alam, manusia mampu menciptakan karya-karya yang begitu megah melalui pembangunan infrastruktur yang dilakukan insinyur yang tentunya berkaitan dengan proses eksploitasi material tambang terlebih dahulu dan mengalih fungsikan lahan. Namun, ekologi dengan jelas menunjukan bahwa keseluruhan alam yang alami dilihat dari semua aspek, siklus, dan keterkaitannya membatalkan semua pretense manusia untuk menguasai dunia. Tanah-tanah terlantar diafrica utara dan bukit -buit Yunani yang tererosi, setelah sebelumnya merupakan area pertanian yang berkembang pesat dan flora alam yang kaya, merupakan bukti sejarah akan pembalasan dendam alam terhadap parasitisme manusia[3].

Sifat ke-parasitismean manusia sudah dimulai sejak jaman purba ketika manusia purba mulai sadar tentang metodelogi bercocok tanam dan melakukan pembukaan lahan dihutan, padahal islam sejak kerasulan Muhammad sudah memberitahukan bahwa dalam perang sekalipun prajurit sebisamungkin melakukan peperangan ditempat terbuka, tidak melakukan perusakan fasilitas umum, tidak membunuh merempuan dan anak kecil, dan yang paling ekologis yaitu tidak boleh merusak tanaman.

Namun, sekarang justru peperangan banyak melanggar kaidah perang sendiri, tertutama dalam perusakan alam dan ekosistem bahkan kerusakan alampun kerap dilakukan oleh pemeritah melalui program-program yang katanya untuk kepentungan masyarakat, seperti pemberian izin pertambangan dan pembukaan kawasan wisata ditempat yang menjadi sentrum pertumbuhan flora dan fauna. Sehingga, tak jarang banyak para aktivis lingkungan yang menganggap keruasakan alam justru banyak dilakukan oleh pemerintah, dan Murray Bookchin mengeluarkan buku Ekologi & Anarkisme unutk mempropagandakan bahwa alam tidak membutuhkan campur tangan pemerintah dalam perkebangannya.



[1] Ditulis untuk pelatihan jurnalistik lingkungan dari DLH Jabar.
[2] Peserta pelatihan jurnalistik lingkungan.
[3] Bookchin Murray, Ekologi & Anarkisme (Pustaka Catut, 2018).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tantangan Pendidikan Islam di Era Globalisasi

Oleh : Hilman Fahmi Khoirussalam Sejarah mengungkapkan bahwa Islam pernah mengalami masa kejayaan. Ini dapat dibuktikan dengan t...