Walaupun kita tidak sezaman dengan Nabi Muhammad Saw.
tetapi, nabi diberikan wahyu oleh Allah Swt. Yaitu Al-Quran. Kemudian hadits
nabi sebagai penjelas maksud dari ayat-ayat Al-Quran. Kitab Al-Quran dan hadits
tersebut, dari generasi kegenerasi hingga sampai sekarang. Kembali kezaman nabi,
kalau kita mengelaborasi perjuangan nabi pada waktu itu dalam melawan
ketertentidasan yang dilakukan kaum Elite yang mempunyai adikuasa terhadap kaumnya. Kemunculan nabi sebagai
pencerah akan kejahiliyahan yang dilakukan oleh petinggi kaum quraiys,
menyebabkan nabi melakukan gerakan perubahan dengan strategi sunyi atau gerakan
sembunyi-sembunyi menyiarkan ketauhidan
agama Islam,kepada keluarga-keluarganya, sahabatnya bahkan sepupunya. Setelah
itu, melaksanakan gerakan terang-terangan, yang secara langsung mengahadapi
kaum Kafir Quraisy. Tentu saja, banyak tantangan selama proses melakukan
gerakan perubahan. Tapi tidak menyulutkan semangat nabi dan para sahabat
mengajak mereka terhadap agama yang benar yaitu Islam. Bahkan, selanjutnya
Islam kedepan menglami kemajuan. Baik perihal urusan agama, ilmu pengetahuan,
strategi perang, teknologi, terutama pada zaman Dinasti Abbasiyah.
Tetapi, realita zaman modern sekarang apakah Islam mengalami
perubahan ke arah yang lebih baik? Atau malah muslim sekarang terintervensi
oleh hal-hal yang bersifat pragmatis, materialistic, hedonistic bahkan Apatis.
Ada ungkapan Ali Syari’ati seolah berorasi kepada seluruh
intelektual Muslim di manapun,” Wahai ulil albab, rausyanfikr, kalian jangan berhenti di atas menara gading. Turunlah ke bawah,
ke kampung-kampung, ke kota-kota, ke pasarpasar, ke sekolah-sekolah, ke tempat
dimana ada sekumpulan manusia. Artinya kita harus mengkristalisasi ungkapan
tersebut. Bahwa muslim harus kritis terhadap isu-isu yang ada di masyarakat
tanpa adanya intervensi. Dengan landasan keimuan yang mampu dipertanggung
jawabkan.
Menganalisis Quran
surat Annisa ayat 75. Ayat ini memang menyebutkan dalam konteks masyarakat
Islam pada zaman nabi masih ada di Mekkah, ketika sedang menghadapi peperangan
melawan kaum Quraisy. Tetapi ayat ini juga mempunyai panggilan universal,
sehingga dari padanya perlu diambil pelajaran untuk dikaitkan pada kondisi yang
sudah sangat berbeda seperti sekarang. Menurut Kuntowijoyo, pelajaran pertama umat
Islam harus berperang di jalan Allah Swt. Yang kedua, umat Islam harus
membela mereka yang lemah (tertindas). Dengan demikian, dalam konteks sekarang,
makna berperang di jalan Allah adalah bahwa umat Islam bisa berjuang untuk mengubah
apa dalam ilmu-ilmu social sebagai superstruktur, jadi, berjuang di
tengah dunia simbolik: imajinasi, ideologi, dunia budaya, dunia berpikir, dan
dunia-dunia immateri. Membela mereka yang lemah (tertindas) berarti mengatur
kembali struktur, yaitu aspek bawah dari superstruktur itu.
[1] Ditulis untuk kajian rutinan PD Hima Persis KBB, Sabtu 09 Nov
2019.
[2] Sekretaris PD Hima Persis KBB periode 2019-2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar