Oleh
: Hilman Fahmi Khoirussalam
Sejarah mengungkapkan bahwa Islam
pernah mengalami masa kejayaan. Ini dapat dibuktikan dengan terjadinya proses
dinamika yang terus berkelanjutan ke arah kemajuan yang salah satunya yaitu
mengenai Pendidikan. Pendidikan sebagai suatu sistem merupakan kesatuan dari
beberapa unsur dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
Pendidikan islam mengalami masa
kejayaan tidak terlepas dari peranan para tokoh saat itu yang selalu
memfokuskan untuk mengkaji ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari luar Arab. .
Ketika Islam lahir, bangsa Arab dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang
berkebudayaan tinggi dan megah, seperti Persia, Romawi, Yunani, dan India.
Sebagai masyarakat yang baru lahir dan berkembang Islam hendak memiliki kebudayaan dan peradaban yang
tinggi, maka harus mempelajari kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa lain yang
jauh lebih maju. Usaha ini telah dilakukan umat Islam di zaman klasik,
khususnya sejak masa Bani Umayyah dan mencapai puncak Kejayaannya pada masa
Bani Abbasiyyah.
Upaya yang dilakukan diantaranya,
Gerakan penerjemah. Penerjemahan buku-buku Yunani, Persia, dan india ke
dalam bahasa mereka. Khalifah yang mengalami puncaknya dalam gerakan
penerjemahan adalah Al-Ma’mun (813-833 M). kemudian dibentuknya Bait Al-Hikmah
: Perpustakaan dan Observatorium, adanya Lembaga Pendidikan ( al-Kutab,
al-Masjid, al-bawanit al-waraqin, Manazil al-ulama, sanggar seni dan sastra, perpustakaan,
al-Madrasah).
Ternyata selain mengalami kemajuan,
Pendidikan Islam pun mengalami
kemunduran yang menurut M.M Sharif,
ditandai dengan menurunnya pemikiran setelah abad ke-13 M dan terus
melemah sampai abad ke-18 M. Di antara sebab-sebab melemahnya pikiran Islam
antara lain :
Pertama, telah berlebihan filsafat Islam yang bercorak sufistik yang
dimasukkan oleh al-ghazali dalam alam Islami ke arah bidang rohaniah, hingga ia
menghilang kedalam mega alam tasawuf, sedangkan ibnu Rusyd dalam
memasukkan filsafat Islamnya yang telah rasionalistis ke dunia Islam di Barat
dan dengan filsafatnya menuju ke arah jurang materialisme.
Kedua, Umat
Islam, terutama pada pemerintahannya (khalifah, sultan, amir-amir) melalaikan
ilmu pengetahuan dan kebudyaan, dan tidak memberi kesempatan untuk berkembang.
Ketiga, terjadinya
pemberontakan-pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar, sehingga
menimbulkan kehancuran yang mengakibatkan berhentinya kegiatan. Pengembangan
ilmu pengetahuan dan kebudayaan di dunia Islam.
Menurut Harun Asrohah, kemunduran
Pendidikan Islami pada masa-masa ini terletak pada merosotnya mutu pendidkan
dan pengajaran di Lembaga-lembaga Pendidikan Islami, materi pelajaran sangat
sederhana, materi yang diajarkan hanyalah ilmu-ilmu keagamaan. Lembaga-lembaga
Pendidikan tidak lagi menyiarkan ilmu-ilmu filosofis, termasuk termasuk ilmu
pengetahuan umum. Rasionalisme pun kehilangan peranannya, dalam arti semakin
dijauhi kedudukan akal dan semakin surut.
Mencermati hal tersebut, ternyata peradaban
dikatakan mengalami kemajuan tidak
terlepas dari ritus-ritus dan kultur ilmiah yang terintegritas satu sama lain
saling berkesinambungan. Begitu pula peradaban dikatakan mundur, cirinya yaitu mulai
meredupnya sifat kiritis, intelektual, kajian keilmiahan dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana dengan kondisi peradaban islam khususnya di bidang Pendidikan
pada masa ini, apakah mengalami kemajuan atau kemunduran?
Dewasa ini Pendidikan Islam berada
dalam era globalisasi yang ditandai oleh kuatnya tekanan ekonomi dalam kehidupan,
tuntutan masayarakat untuk memperoleh perlakuan yang makin adil dan demokratis,
penggunaan teknologi canggih, kesalingtergantungan, serta kuatnya nilai budaya
hedonistic, pragmatis, materialistic, dan sekularistik.
Munculnya berbagai kecenderungan
dalam era globalisasi tersebut adalah merupakan tantangan dan sekaligus menjadi
peluang jika mampu dihadapi dan dipecahkan dengan arif dan bijaksana, yaitu
dengan cara merumuskan kembali berbagai komponen Pendidikan: visi, misi,
tujuan, kurikulum, proses belajar mengajar, dan sebagainya.
Menghadapi keadaan yang demikian itu
dunia Pendidikan pada umumnya, dan Pendidikan Islam pada khususnya kini berada
di persimpangan jalan, yakni anatara jalan untuk mengikuti tarikan eksternal
sebagai pengaruh era globalisasi, atau tarikan internal yang merupakan misi
utama Pendidikan, yaitu membentuk manusia seutuhnya, yaitu manusia yang terbina
seluruh potensinya secara seimbang.
Dalam menghadapi tarikan eksternal
dan internal tersebut, maka munculah dinamika baru dalam Pendidikan Islam,
yakni usaha meninjau kembali seluruh komponennya secara inovatif, kreatif,
progresif, holistic, dan adaptif dengan tuntutan modernitas.