Minggu, 03 Mei 2020

Tantangan Pendidikan Islam di Era Globalisasi



Oleh : Hilman Fahmi Khoirussalam

Sejarah mengungkapkan bahwa Islam pernah mengalami masa kejayaan. Ini dapat dibuktikan dengan terjadinya proses dinamika yang terus berkelanjutan ke arah kemajuan yang salah satunya yaitu mengenai Pendidikan. Pendidikan sebagai suatu sistem merupakan kesatuan dari beberapa unsur dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.

Pendidikan islam mengalami masa kejayaan tidak terlepas dari peranan para tokoh saat itu yang selalu memfokuskan untuk mengkaji ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari luar Arab. . Ketika Islam lahir, bangsa Arab dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang berkebudayaan tinggi dan megah, seperti Persia, Romawi, Yunani, dan India. Sebagai masyarakat yang baru lahir dan berkembang Islam  hendak memiliki kebudayaan dan peradaban yang tinggi, maka harus mempelajari kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa lain yang jauh lebih maju. Usaha ini telah dilakukan umat Islam di zaman klasik, khususnya sejak masa Bani Umayyah dan mencapai puncak Kejayaannya pada masa Bani Abbasiyyah.

Upaya yang dilakukan diantaranya, Gerakan penerjemah. Penerjemahan buku-buku Yunani, Persia, dan india ke dalam bahasa mereka. Khalifah yang mengalami puncaknya dalam gerakan penerjemahan adalah Al-Ma’mun (813-833 M). kemudian dibentuknya Bait Al-Hikmah : Perpustakaan dan Observatorium, adanya Lembaga Pendidikan ( al-Kutab, al-Masjid, al-bawanit al-waraqin, Manazil al-ulama, sanggar seni dan sastra, perpustakaan, al-Madrasah).

Ternyata selain mengalami kemajuan, Pendidikan  Islam pun mengalami kemunduran yang menurut M.M Sharif,  ditandai dengan menurunnya pemikiran setelah abad ke-13 M dan terus melemah sampai abad ke-18 M. Di antara sebab-sebab melemahnya pikiran Islam antara lain :
Pertama, telah berlebihan filsafat Islam yang bercorak sufistik yang dimasukkan oleh al-ghazali dalam alam Islami ke arah bidang rohaniah, hingga ia menghilang kedalam mega alam tasawuf, sedangkan ibnu Rusyd dalam memasukkan filsafat Islamnya yang telah rasionalistis ke dunia Islam di Barat dan dengan filsafatnya menuju ke arah jurang materialisme.

Kedua, Umat Islam, terutama pada pemerintahannya (khalifah, sultan, amir-amir) melalaikan ilmu pengetahuan dan kebudyaan, dan tidak memberi kesempatan untuk berkembang.
Ketiga, terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar, sehingga menimbulkan kehancuran yang mengakibatkan berhentinya kegiatan. Pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di dunia Islam.

Menurut Harun Asrohah, kemunduran Pendidikan Islami pada masa-masa ini terletak pada merosotnya mutu pendidkan dan pengajaran di Lembaga-lembaga Pendidikan Islami, materi pelajaran sangat sederhana, materi yang diajarkan hanyalah ilmu-ilmu keagamaan. Lembaga-lembaga Pendidikan tidak lagi menyiarkan ilmu-ilmu filosofis, termasuk termasuk ilmu pengetahuan umum. Rasionalisme pun kehilangan peranannya, dalam arti semakin dijauhi kedudukan akal dan semakin surut.

Mencermati hal tersebut, ternyata peradaban dikatakan mengalami  kemajuan tidak terlepas dari ritus-ritus dan kultur ilmiah yang terintegritas satu sama lain saling berkesinambungan. Begitu pula peradaban dikatakan mundur, cirinya yaitu mulai meredupnya sifat kiritis, intelektual, kajian keilmiahan dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan kondisi peradaban islam khususnya di bidang Pendidikan pada masa ini, apakah mengalami kemajuan atau kemunduran?
Dewasa ini Pendidikan Islam berada dalam era globalisasi yang ditandai oleh kuatnya tekanan ekonomi dalam kehidupan, tuntutan masayarakat untuk memperoleh perlakuan yang makin adil dan demokratis, penggunaan teknologi canggih, kesalingtergantungan, serta kuatnya nilai budaya hedonistic, pragmatis, materialistic, dan sekularistik.

Munculnya berbagai kecenderungan dalam era globalisasi tersebut adalah merupakan tantangan dan sekaligus menjadi peluang jika mampu dihadapi dan dipecahkan dengan arif dan bijaksana, yaitu dengan cara merumuskan kembali berbagai komponen Pendidikan: visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar mengajar, dan sebagainya.

Menghadapi keadaan yang demikian itu dunia Pendidikan pada umumnya, dan Pendidikan Islam pada khususnya kini berada di persimpangan jalan, yakni anatara jalan untuk mengikuti tarikan eksternal sebagai pengaruh era globalisasi, atau tarikan internal yang merupakan misi utama Pendidikan, yaitu membentuk manusia seutuhnya, yaitu manusia yang terbina seluruh potensinya secara seimbang.

Dalam menghadapi tarikan eksternal dan internal tersebut, maka munculah dinamika baru dalam Pendidikan Islam, yakni usaha meninjau kembali seluruh komponennya secara inovatif, kreatif, progresif, holistic, dan adaptif dengan tuntutan modernitas.

Tantangan Pendidikan Islam di Era Globalisasi

Oleh : Hilman Fahmi Khoirussalam Sejarah mengungkapkan bahwa Islam pernah mengalami masa kejayaan. Ini dapat dibuktikan dengan t...